My Father is My Superman

Semalem kemimpian Bapak. Entah kenapa ini jadi sesuatu yg langka. Aku hampir lupa kapan terakhir aku mimpiin tentang beliau. Bapak dan aku sebenernya dekat sekali. Tapi gatau, 5 tahun ke belakang sampai skrg, aku makin ga mengenal beliau seperti sebelumnya. Tentu ada hal yg ga remeh yg membuat kami seperti itu. Bapak juga manusia biasa, bukan malaikat atau nabi yang bersih dari dosa dan kesalahan. Tahun 2010-2012, aku hidup tanpa Bapak. Bapak memutuskan sesuatu yg ga bisa diterima dgn nalar dan hatiku sampai sekarang bahkan. Rasanya tiap mengingat hal itu, perasaan benciku datang kembali. Jadi hingga sekarang aku selalu berusaha untuk tidak mengingatnya.

2 tahun berlalu dengan sangat berat aku lalui bersama Mama dan kami berlima. Pemasukan keuangan kami hanyalah dari warung yg mama bangun dari mulai kami kecil. Warung yg kecil dan tidak begitu lengkap isinya. Bayangkan saja, mama harus membiayai sekolahku dan adikku yg biaya perbulannya tidaklah murah. Kakak-kakakku pun hanya mampu membantu sesanggupnya, dan mama sangat mengerti itu. Aku menyaksikan sendiri bagaimana mama selalu menyembunyikan airmatanya setiap beliau merasa lelah. Mama tak ingin membuat kami menjadi ikut lemah dan menyerah pada keadaan. Aku sempat beberapa kali bekerja di studio foto untuk mendapatkan sedikit uang untuk sekedar uang jajan adikku dan membantu mamaku membayar iuran listrik dan air.

Bapak mungkin tak pernah menyadari betapa sulitnya hidup kami saat itu. Mama pun tak pernah ingin merepotkan siapapun. Bahkan kedua kakakku juga tak ingin direpotkannya. Mama bukan wanita yg senang menadahkan tangan untuk mendapatkan sesuatu. Mama adalah wanita tegar yg paling tegar yg pernah aku kenal. Aku sangat bersyukur karena Tuhan menganugerahkan seorang mama yg begitu hebat kepadaku. Mama adalah satu-satu alasanku untuk tetap semangat menjalani hari-hariku saat itu. Hanya doa dan doa saja yang membuat setiap hari bisa terlewati meski dengan begitu mengerikan.

Bapak bukanlah orang yg bisa dibilang kaya, namun bapak orang yg supel. Sangat supel menurutku. Bapak juga org yg ikhlas, org paling ikhlas yg pernah aku jumpai. Rasanya tak percaya saja Bapak tega menorah luka yg begitu dalam pada kami, yg masih akan selalu berstatus keluarganya. Bapak bukan tipe orang yang suka membuat hati orang terluka. Aku paham betul itu. Dalam mendidik kami saja, tak pernah sekali pun beliau menggunakan kekerasan. Beliau menggunakan kelembutan namun berikut kedisiplinan yg membentuk kami menjadi pribadi yg mandiri.

Di saat seperti itu, mama tak pernah membenci Bapak. Bapak tetap selalu masuk dalam daftar org2 yg selalu didoakannya. “Bagaimanapun juga, Bapak tetaplah Bapak. Suami mama. Sebagai istrinya, mama harus tetap menuruti suami. Kesalahan suami bukan lantas menjadi alasan seorang istri meninggalkan. Justru disitu kesetiaan dan ketaatan seorang istri diuji.” Begitu yg selalu mama bilang tiap aku bertanya mengapa mama masih terus mendoakan laki-laki yg jelas-jelas telah melukainya berkali-kali.

Bulan Oktober tahun 2010, kakak pertamaku menikah. Tepat 2 bulan sepeninggal Bapak. Aku tak bisa membayangkan bagaimana hancurnya perasaan mama saat harus mendampingi kakakku di pelaminan seorang diri. Bukan janda, suami masih hidup, tapi rasanya lebih seperti ditinggal mati oleh suami. Mama juga begitu tegar saat begitu banyak bibir-bibir jahat yg mencibirkannya di belakang. Mama tak henti-hentinya meneteskan airmata saat prosesi di gereja, sampai resepsi digelar. Aku yg saat itu menjadi bridesmaid untuk kakakku pun tak kuasa menahan haru. Aku merasa Tuhan terlalu jahat kepada mama.

Pertengahan tahun 2013, adalah babak baru dalam kehidupan keluargaku. Bapak kembali. Yah, kembali. Namun kali ini beliau kembali dengan penyakit yg telah menggerogoti tubuhnya. Bapak begitu kurus, rambutnya hampir memutih keseluruhannya, dan seringkali terdengar batuk yg berat. Jujur saja, saat itu aku sangat tidak peduli. Bagiku, beliau tak pantas lagi kupanggil Bapak setelah mengingat semua yg telah dilakukannya. Namun di sisi hatiku yg lain, hatiku menangis. Pria tua ini adalah tetap Bapakku. Bapak yg membuatku ada sampai hari ini. Bapak yg dulu sering mendongengkan cerita fantasi untukku setiap malam sebelum tidur.

Yang lebih membuatku tak percaya adalah, mama menerimanya kembali. Mama bersikap seperti tidaj pernah terjadi apa-apa. Mama tetap merawat Bapak, membuatkanyya obat-obatan herbal, menyiapkan air hangat untuk Bapak mandi dan mencuci kaki sebelum Bapak tidur, dan sesekali memijitnya.Oh, Tuhan. Apa yg sebenarnya ingin Kau tunjukkan kepadaku? Kau berikan aku mama atau malaikat? Aku tau mama menyimpan berember-ember airmata yg tak pernah dikeluarkannya. Ia mengeluarkannya lewat senyuman dan tindakan baik.

Hingga sekarang, keadaan berangsur semakin baik. Kami berlima sudah berdamai dengan Bapak. Bagi kami, terutama aku, Bapak adalah Bapak yg hebat. Biarlah kesalahannya dulu mengajarkanku arti memaafkan sesungguhnya. Aku sudah melupakan semuanya, begitu juga mama, kakak-kakak dan adikku. Kami sudah memaafkan Bapak. Aib ini biarlah keluarga kami saja yg tau. Orglain tak perlu tau apa2. Dan jika suatu saat ada orglain yg mencoba mencemooh Bapak, aku adalah org pertama yg akan melawan. Karena aku berhak, mengingat statusku adalah darah dagingnya. Nobody’s perfect, but My Daddy is still my Superman.

Semoga Bapak cepat sehat dan tak pernah pergi lagi. Semoga…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s