You’re Liar!

Aku menutup kardus berisi semua barang-barang kenangan tentangmu. Tak begitu banyak memang, tapi aku muak setiap kali melihatnya. Kekejianmu melintas di pikiranku setiap itu semua terlihat mataku. Ya, kita sudah berpisah, Tuan. Berpisah secara sepihak, yg membuat hati ini tak henti menjerit tak siap. Begitu mudahnya kau ucapkan kata-kata itu, Tuan. Seolah semua yang pernah terjadi lenyap begitu saja dari otakmu yang notabene mempunyai daya ingat baik. Rasanya mustahil, Tuan, untuk bisa melupakannya begitu saja. Mungkin kau bisa, karena kau sudah memiliki boneka barumu lagi. Sedangkan aku? Aku hanya boneka usangmu, yang sudah tak bisa lagi kau rawat, kau peluk, kau mainkan sesuka hatimu. Boneka yang hanya tinggal menunggu tukang rongsokan pungut untuk hadiah bagi anak perempuannya. Tak bisakah kau lihat lebih teliti, Tuan? Boneka usangmu ini ternyata punya hati. Bonekamu ini hidup dan bernafas, dan jika kau tusuk pisau pun berdarah. Ingatlah, Tuan, aku bukan sekedar bonekamu yang tak pernah bisa merasakan sakit. Aku bisa melihat apa yang selama ini kau lakukan. Bersembunyi di balik topeng malaikatmu. Oh, Tuan, berhentilah bersandiwara. Drama ini telah usai. Kau tak perlu lagi mengenakan topeng itu di wajahmu.

Aku begitu ingat kata-katamu kemarin, semua kau lakukan demi kebaikanku. Tuan, sadarkah kau? Kau ajarkan aku tentang kebaikan? Kebaikan seperti apa? Kebaikan kepura-puraan kah? Tak perlu, Tuan! Kau hanya perlu mengajari dirimu sendiri. Karena justru dirimulah yang begitu membutuhkannya. Kau sangat tidak tahu apa-apa tentang bagaimana menjadi orang yang benar-benar baik tanpa harus berpura-pura. Dan perlu kau tahu, aku sudah sagat tidak membutuhkan kebaikanmu lagi. Simpanlah topeng kebaikanmu itu, dan kenakanlah untuk menipu wanita lain.

Aku akui, aku sempat kehilangan duniaku begitu kau mengucapkan kata pisah. Rasanya langit tengah meruntuhiku kala itu. Aku bahkan harus tidak masuk kerja selama beberapa hari hanya untuk meratapi kebodohanku karena telah amat sangat percaya kepada orang yang kunilai terlalu sempurna, tapi nyatanya? Tak lebih dari sampah yang tak bisa didaur ulang!

Kau adalah seorang penulis berbakat. Bersamamu aku bisa berbagi mimpi yang serupa. Kau bahkan mencantumkan namaku di bab ucapan terima kasih dari novel pertamamu, kau tulis aku adalah inspirasi dan semangatmu menulis. Tapi kini aku menyadarinya. Kau terlalu berteori dalam menulis. Tak keluar dari dalam hatimu. Itulah sebabnya semua novelmu sangat membosankan. Terlalu berpura-pura.

Aku dendam? Oh tentu saja tidak. Aku serahkan semua kepada Tuhanku. Karena Ia lebih tau apa yg harusnya terjadi. Aku tinggal menunggu kapan balasan Tuhan itu datang kepadamu. Dan kini? Kau sudah menerimanya. BAgaimana rasanya, hai Penipu? BAgaimana rasanya ditipu mentah-mentah? BAgaiamana rasanya ditinggal pergi saat kau sedang cinta-cintanya? Sakitkah?

Dan di waktu bersamaan, kau datang kembali padaku. Mengemis maaf dan ,memintaku kembali untuk menjadi bonekamu lagi. Hei, Tuan Pembual! Dimana perasaan dan otakmu? Belum puaskah membuat sesorang kehilangan cahaya hidupnya karena menerimamu menjadi seorang yg dicintai? Dan apalagi? Kau mengatakan aku pasti masih sangat mencintaimu dan mengharapkanmu kembali? Oh, man. Percaya dirimu itu sungguh menggelikan. Tak malu kah kau mengatakan itu padaku?

Aku sudah berhasil menata hidupku, Tuan Pembual. Aku sudah menemukan orbit hidupku yang baru. Yang lebih pantas untuk kuperjuangkan. Yang tentunya lebih bisa menghargai dan memegang kata-katanya. Kau tak perlu lagi mencemaskanku karena mengira aku tak akan bisa hidup tanpamu. AKu tak sebodoh itu, Tuan. Masih begitu banyak alasanku untuk bertahan, tak melulu tentangmu yang tak berarti lagi sekarang buatku.

Jadi, tolong pergi jauh-jauh ya. Aku yakin kau akan menemukan boneka-bonekamu yang baru. Semoga mereka jauh lebih bodoh ya, sehingga bisa mempercayai setiap racun yang keluar dari mulutmu.

Sukses membualnya ya! Semoga selalu sukses dalam kegiatanmu menulis, dan menipu. Aku sarankan, bertobatlah. Sebelum boneka-bonekamu itu sadar sepertiku dan kemudian akhirnya? Meninggalkanmu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s