“Selamanya Cinta”; Untukmu

Untukmu Pria yang Kucintai karena-Nya,

Hai, Tuan. Selamat Pagi. Semoga pagimu diawali dengan kebaikan senantiasa. Aku kembali menulis untukmu, tak apa kan? Tentu tak apa, karena kau pun tak mungkin membaca ini. Pagiku hujan, Tuan. Hujan kerinduan akanmu; akan sosokmu. Tak bosan-bosannya aku merasakan ini. Ya, aku memang bodoh. Merindukan sosok yang mungkin selamanya tak akan pernah bisa kurengkuh dengan jemari ini.

Selamanya Cinta, kau tau lagu itu Tuan? Ya, lagu D’Cinnamons. Mengalun lembut dan terkadang menusukku dengan lirik tajamnya. Posisiku persis seperti lirik lagu ini, Tuan. Tak pandai aku mengungkapkan apa yang ada di hati. Hanya lewat tulisan-tulisan payah dan senandung-senandung sumbang saja yang sanggup aku sampaikan. Tapi tentu semua itu tak cukup membuatmu percaya kan? Logikamu menguasai hampir seluruh belahan hidupmu, sehingga hatimu tak bisa merasakan hangat yang mencoba masuk.

Tuan, aku ingin sekali kau tau beberapa hal. Aku tau ini tak begitu penting. Tapi bisakah kau dengarkan sebentar dan terserah setelahnya ingin kau lupakan atau kau ingat.

Hampir setiap malam aku memimpikan sosokmu, Tuan… Idiotkah itu? Aku bahkan sama sekali belum pernah melihat sosokmu di dunia nyata, tapi mengapa Tuhan mengizinkan aku atas kelancangan ini? Dan kau tau bagaimana rasanya, Tuan? Ini begitu menyiksaku. Kau bisa membayangkan bagaimana aku setiap bangun dari tidur dan menyadari bahwa mimpi itu telah berakhir. Apa yang terjadi padaku sebenarnya? Apa ini hukuman bagi gadis pemimpi yang tak punya apa-apa lalu berani mencintai pria sempurna bak pangeran sepertimu? AKu tak bisa berhenti mencintaimu, bahkan untuk tak memikirkan dan melihat pergerakan hidupmu di dunia maya untuk sebentar saja aku tak sanggup. Aku tak tahu harus sampai berapa lama aku seperti ini tiap aku mengingatmu. Setiap malam aku rasanya tak ingin tidur, Tuan. AKu takut Tuhan membawamu kembali dalam mimpiku. AKu tersiksa! Kau tau?!

Aku juga ingin kau tau hal lain. Kau berhasil mengubahku. Pepatah mengatakan “Temukan seorang pria yang dapat mendewasakan hidupmu”. Dan aku berhasil menemukannya, Tuan. Dirimu.
Aku merasakan sekali perubahan dalam hidupku. Aku adalah gadis dengan cara hidup berantakan. Jarang memperhatikan hidupku, kesehatanku, penampilanku. Bagiku, jodohku nanti harus menerimaku apa adanya, tak usah banyak permintaan atas perubahan diriku. Tapi aku salah Tuan. Inilah cinta yang sesungguhnya, tak membuat kita selalu menjadi diri sendiri. Cinta membangkitkan semangat untuk menjadi lebih baik dan terbaik untuk orang yang kita sayang. CInta itu perihal membangun diri kea rah kebaikan. Aku sangat berterima kasih kepadamu atas hal itu. Aku sekarang lebih sering makan wortel yang jujur sangat amat tak kusukai. AKu berhasil tidur lebih awal 2 jam dari biasanya aku selalu tidur dini hari. Dan, aku berhasil masuk perguruan tinggi. Ya, standard kenormalan orang zaman sekarang. Tingkat pendidikan. Terima kasih sudah menjadi orbit hidupku untuk menata pelan-pelan ke”amburadul”an hidupku ini.

Tuan, tapi mengapa sekarang kau menjauh? Kau menghindariku? Tak inginkahh kau menemaniku berjuang? Apa Tuhan hanya memberimu peran sementara dalam hidupku? Sulit sekali rasanya menerima ini. Tuhan memang maha membolak-balikkan hati. Harapanku masih menggantung tinggi; untuk bisa membersamaimu, Tuan. Dan aku akan terus berusaha meraih dan menjadikannya kenyataan, bukan lagi mimpi indah yang seketika hilang saat aku membuka mataku. Tak mengapa kau menjauh, Tuan. Karena memang kenyataannya kau memang akan semakin jauh bila semakin kukejar.

Biarlah Tuhan dan semesta yang merancang masa depan kita; bersatu atau tidak. Aku dan kau hanya bisa berjuang, walau bukan saling memperjuangkan. Aku pun mulai takut untuk menghubungimu. Sekarang aku hanya bisa melanjutkan perjuanganku, dan menikmati indahmu dan menyayangimu dari jauh. Biarlah doa-doa yang ku panjatkan setiap awal dan ujung hari ini yang memelukmu erat. Cinta ini menguatkanku, Tuan. Aku mencintaimu, didasari kecintaanku pada Sang Maha Pemberi Cinta. Semoga Ia selalu mengabulkan doa-doaku untuk kebahagiaanmu senantiasa.

Bersabarlah kumohon.. Jangan ada yang lagi yang lain yang berjuang seberdarah ini karena mencintaimu. Cukup aku saja ya? Batu Karangku, jika Pantaimu ini sudah selesai membenahi diri, maukah kau pulang? Berhentilah sejenak mengarungi lautan dengan hantaman ombak tanpa kompromi itu. Pulanglah Batu Karang, Pantaimu ini menginginkan kamu; kita bersama menikmati suara deburan ombak mengalun syahdu dan kemudian tenggelam berdua dalam keharuan yang membahagiakan bersama sunset yang begitu menghangatkan.

Semoga suatu saat nanti kita saling menemukan satu sama lain..

Dariku,

Pantaimu yang sedang berjuang menjadi yang pantas
untuk menyambut kepulanganmu berlayar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s