Untukmu Tuan Pemberi Tawa

Untuk Pria Pembawa Tawa yang berhasil menjungkir balikkan duniaku,
Hai, apa kabar denganmu? Semoga doaku selalu dikabulkan Tuhan; kebahagiaanmu senantiasa. Pasti saat ini kau masih sibuk bertempur dengan pekerjaan yang seolah menuntutmu untuk memperhatikannya sepanjang waktu. Tuan, kalau aku diizinkan untuk mengatakan ini, aku ingin kau lebih memperhatikan dirimu, kesehatanmu. Aku sangat sadar bahwa aku tak punya hak apa-apa untuk mengatakannya padamu. Tapi bisa kah kau melakukan itu demi kebaikan mu sendiri? Aku yakin kau lebih mengerti hal itu, karena kau bukanlah anak yg baru besar kemarin.

Aku ingat saat kau menceritakan mengapa kau merokok. Aku bisa menebak kalau kau bukanlah pecandu rokok yang akan sakau jika kau berhenti menghisapnya. Kau sangat mengerti kesehatan. Ayahmu bilang pekerjaanmu membutuhkan kinerja otak yang cukup tinggi, maka untuk menghindarkan stress harus dialihkan ke sesuatu yg menghasilkan nikmat; dan banyak orang yang memilih dengan merokok. Ayahmu juga bilang kalau pekerjaanmu sangat rentan mengakibatkan stroke, jadi jika tidak merokok  nantinya bukanlah kesehatan yg didapat melainkan mengangkat sebatang rokok saja pun tak sanggup. Realistis, Tuan. Mungkin hal itu pula yg membuat ayahku kembali merokok; padahal jantungnya sendiri pun tak muda lagi.

Sangat konyol rasanya perasaanku ini, Tuan. Aku bisa jatuh cinta segila ini padamu; pria yg tak pernah ku tatap langsung wujudnya. Kau pun berkali-kali menanyakan “bagaimana bisa” kepadaku. Aku sangat ingin menjawabnya, Tuan. Tapi aku sendiri tak tahu apa yg terjadi pada hatiku saat ini. Seorang tua pernah mengatakan 1 hal padaku, “kalau benar-benar sudah cinta, kau tak akan pernah mengatakan apa yg membuatmu jatuh cinta padanya, karena sesungguhnya cinta itu tidak pernah mempunyai alasan untuk diungkapkan. Cinta hanya butuh untuk dirasakan.” Kau percaya itu, Tuan? Ah, aku yakin kau tak pernah mempercayai hal semacam itu. Kau adalah manusia dengan fikiran yang sangat amat realistis. Tapi kau perlu tau, Tuan. Kadang kita tak perlu begitu realistis, karena dalam hal ini yang paling dominan bekerja adalah hati & perasaaan, bukan otak.

Perkenalan kita memang sangat klise. Dunia maya menjadi perantara percakapan kita dalam beberapa waktu belakangan. Mungkin kau pun akan berfikir bahwa aku hanyalah sekelebat angin yang sebentar menyejukkanmu, dan kemudian kau hempaskan menghilang begitu saja.
Kau bukanlah yg pertama yg membuatku jatuh cinta. Tapi kau perlu tau, Tuan. Kau adalah satu-satunya pria yg membuatku jatuh cinta tanpa alasan sekaligus dalam waktu yang begitu singkat aku merasa detik-detik di dalam hidupku terasa lebih berisi semenjak mengenalmu. Ini bukanlah rekayasa, Tuan. Inilah realita yg selama ini kau anut. Aku benar-benar mencintaimu.

Tuan, kau tau, banyak penulis yg mengatakan bahwa mereka harus merasakan rasa sakit terlebih dahulu demi untuk bisa menuliskan kata-kata yg mereka susun menjadi sebuah cerita? Aku pun mempunyai kesempatan untuk mengalaminya dahulu, saat menuliskan beberapa hal yg mengharuskanku merasakan sakit. Tapi tidak saat aku menulis tentangmu, Tuan. Bukan hanya rasa sakit yg membuat aku lancer menuliskan ini untukmu, melainkan rasa bersyukur yang amat sangat karena telah diizinkan untuk melakukannya.

Tuan Pemberi Tawa, ku mohon jangan pernah berubah menjadi Tuan Pemberi Harapan Palsu ya! Tetap seperti sekarang, menghadirkan tawa yang sampai kapan pun tak akan pernah kulupa.

Dariku,

Gadis biasa yang selalu mengkhawatirkan kesehatanmu serta terus mendoakannya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s