“Beauty”

Aku ingat; dulu waktu masih berumur sekitar 16’an tahun, aku punya
kenalan seorang teman di organisasi. Cantik, kalem dan baik, namanya Lia.
Suatu hari aku diajak ke rumahnya karena harus mengurus beberapa
keperluan. Sampai di rumahnya, aku diperkenalkan pada bapak dan ibunya.
Sontak saat itu aku kaget (lebih tepatnya seperti tidak percaya). Bukan
apa-apa sih, tapi ini (suer) benar-benar kalimat yang pertama terlintas
di otakku: “Ya ampun, ini bapaknya kok cakep, tinggi, putih, keren
begini tapi ibunya bertolak belakang?”

Iya sih, ibunya Lia ini semacam perempuan berkulit legam, pendek, kurus,
dan (maaf) ada cacat fisik. Sementara bapaknya lebih mirip mantan
coverboy. Aku di rumah Lia sejak jam 12 siang sampai jam 5 sore. Selama
rentan waktu itu aku dijamu makan siang, dibuatkan es kelapa muda,
disediakan aneka cemilan pada saat mengerjakan tugas. Semua perjamuan
itu disuguhkan ibu Lia. Sementara bapak Lia membantuku menyelesaikan
beberapa pekerjaan.

Tepat jam 5 pekerjaan kami selesai. Saat itu aku dan Lia diajak
duduk-duduk bersama bapaknya di gazebo. Menikmati sore dan segelas susu
cokelat panas yang disediakan ibu Lia. Kami hanya duduk-duduk bertiga,
sementara ibu Lia masuk lagi ke dalam, membersihkan dan menyapu seisi rumah.

“Gimana? Capek?”, bapak Lia membuka pembicaraan.
“Iya, Om. Tapi syukurlah semuanya sudah selesai”, jawabku masih kaku.
“Monic sudah berapa lama kenal Lia?”
“Baru seminggu lalu, Om. Ya ketemu di organisasi ini”, aku mulai
mengakrabkan diri.

Bapak Lia menyeruput susu cokelat panasnya.
“Kaget ya ketemu ibunya Lia?”

Aku yang hendak minum susu cokelat panas hampir tersedak.
“Ee, enggak kok, Om. Hehe..”, aku kikuk, entah seperti apa ekspresiku
saat itu. Kok bisa-bisanya bapak Lia bertanya menohok semacam itu. Bak
master pembaca pikiran saja.

“Om sudah menikahi tante hampir 20 tahun lho. Dan selama itu Om selalu
menikmati kecantikannya setiap hari”
“Iya dong, Om. Tante kan emang cantik”, suer ini pernyataan bohong banget.
“Iya, cantik sekali. Bahkan sampai sekarang Om belum menemukan perempuan
secantik ibunya Lia. Dia sangat cantik dari hatinya. Monic, tidak
pungkir sebagai laki-laki, Om dulu juga pasti tertarik pada
perempuan-perempuan berparas cantik, body bahenol, sexy, tapi hati
mereka tidak ada yang secantik ibu Lia. Dia perempuan pekerja keras,
rajin, tekun, dan sangat taat pada suami. Setiap tamu yang datang ke
rumah ini pasti dijamunya seperti raja. Teman-teman kantor Om banyak
yang sering kesini dan selalu saja kesan pertamanya seolah tidak percaya
kalau perempuan yang sekarang jadi ibunya Lia itu istri
Om. Tapi besoknya di kantor pasti pada ngacung jempol bilang kalau ibu
Lia itu perempuan super baik”

Aku diam, masih terus ingin menyimak cerita bapaknya Lia.
“Kamu tahu, setiap pagi ibu Lia menyiapkan air hangat untuk Om mandi.
Menyediakan sarapan dan kopi sebelum berangkat ke kantor. Memasangkan
dasi Om, bahkan sampai memasangkan kaus kaki dan sepatu. Itu semua
dilakukan ibu Lia. Om bukan bermanja, tapi ia selalu menolak kalau
mengerjakan hal lain sebelum selesai mengurusi anak dan suaminya.
Makanan di rumah ini Ibu Lia yang masak semuanya. Dia istri sekaligus
ibu yang hebat. Ia bukan perempuan karir, sebab itu ia mampu mendidik
anak-anak Om dengan sepenuh waktunya sebagai seorang ibu. Malam hari,
sebelum Om tidur, ibu Lia selalu
menyiapkan sebaskom air hangat dan merendam kaki Om. Katanya biar selalu
segar tiap hari, kasihan capek bekerja seharian”.

Benar-benar mataku berkaca-kaca kala itu. Aku mendapat pelajaran
berharga dari ibu dan bapak Lia. Bahwa menilai fisik seseorang bukanlah
perkara penting untuk menakar hatinya.

“Suatu saat, kalau kamu sudah dewasa nanti, kamu akan mengerti semuanya.
Bagaimana seharusnya cara membuka mata membandingkan kecantikan fisik
dan kecantikan hati. Kamu pasti akan tahu bagaimana rasanya lebih luluh
pada orang baik meski jelek, ketimbang orang cakep tapi perangainya
buruk. Om aja jujur nih, sampai detik ini, Om tidak pernah berhenti
bersyukur Tuhan memberikan istri sebaik ibunya Lia. Perempuan paling
cantik hatinya yang pernah Om temukan”

Sejak saat itu aku belajar banyak hal, tentang bagaimana memandang
seseorang tidak hanya dari tampilan luarnya saja. Bapak Lia juga benar,
cinta yang sebenar-benarnya ialah cinta yang lebih mencintai kecantikan
‘hati’, bukan sekedar kecantikan ‘paras’.

Angkat topi untuk bapak Lia yang sudah menjadi laki-laki ganteng berjiwa
keren kece badai karena selalu mencintai istrinya dengan segala
kekurangan fisiknya. Dan penghormatan luar biasa cetar membahana untuk
ibu Lia yang sudah menjadi perempuan tercantik sebagai istri dan ibu
yang hebat. Semoga suatu saat saya bisa menjadi perempuan ‘secantik’ beliau.

*Sampai akhirnya catatan ini aku buat, aku percaya kalau kisah-kisah
romantis semacam ini gak cuman ada di FTV doang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s