Untukmu Yang Telah Menemaniku Selama Ratusan Hari: Tolong Jangan Pergi

Sayang,

Tak ada yang berkata bahwa hubungan dua manusia bisa berjalan begitu mudahnya. Sebaliknya, ada dua isi kepala berbeda dan dua masa depan yang harus disatukan — dan proses ini bisa saja menyakitkan. Cinta memang membahagiakan, namun tak lantas mencegah perbedaan pendapat dan perselisihan.

Hubungan yang sudah berjalan lama akan memberi tantangan yang lebih besar lagi. Pasalnya, hubungan yang sudah sekian lama memang termasuk masa-masa rawan. Dalam “masa-masa rawan” ini, semua pasangan tak boleh sekali-kali lengah jika tak mau berhenti melangkah.

Begitu juga dengan kita. Aku di sini ingin berjuang agar hubungan kita bisa tetap memiliki masa depan. Semoga, kamu juga berpikiran sama.

Manusia diciptakan berpasang-pasangan, begitu pula aku dan kamu. Ada alasan kenapa kita menjalin cerita hingga sekarang. Ada alasan kenapa kita bertemu.

Sayang, maukah kau percaya bahwa manusia diciptakan untuk kemudian berpasang-pasangan? Bahkan, manusia pertama yang adalah Adam, disusul keberadaannya oleh Hawa. Hawa ada karena dicipta dari tulang rusuk Adam. Mereka kemudian disatukan dan dititahkan untuk pergi ke bumi dan memenuhi segala isinya. Sekarang masihkah kau menolak percaya bahwa memang manusia di Bumi haruslah memiliki pasangannya?

Aku juga ingin kau percaya bahwa selalu ada alasan kenapa kita dipertemukan. Tentu ini bukanlah suatu kebetulan. Semesta memang sudah mengatur dengan rapi bagaimana kita bisa bersua. Pertemuan singkat itu pun menorehkan guratan istimewa.

Ah, aku yakin kau juga mengalami degup jantung yang bertalu-talu tiap kali bersamaku. Aku bahkan mulai hafal pada titik-titik keringat di keningmu, tanda bahwa kau begitu salah tingkah di pertemuan kita yang selanjutnya. Yang kemudian berganti menjadi semburat merah jambu di pipi ketika kau melontarkan ajakan untuk menjalin hubungan denganmu.

Aku berani bersumpah, jantungku sempat kehilangan beberapa ketuk iramanya. Sebaliknya, paru-paruku lega luar biasa. Walau campur aduk rasanya, aku tahu aku bahagia.

Memang tak selamanya jalan yang kita lalui mulus seperti jalan yang baru diaspal. Terkadang kita akan goyah dihantam badai permasalahan.

Tentu saja hubungan kita tak mulus saja bagai meluncur di perosotan anak balita. Toh kita pasti akan jemu jika hubungan berdua hanya diisi hari bahagia yang lama-lama akan kehilangan keistimewaannya. Kita telah dewasa, tentu pasti ada kastanya. Level kita bukan lagi perosotan anak balita, kita naik jet coaster yang lebih menantang serta memang untuk orang dewasa. Kita sering merasa mabuk dan lelah dengan rutenya yang naik turun, namun bukankah disitu daya pikatnya? Karena kamu dan aku sama-sama merasa itulah candu dan bumbu bagi hubungan berdua.

Tengkar mulut dan lempar kata dengan sebal sering kita lewati. Kau dan aku enggan bertemu karena kita lelah memaki. Namun, kemudian di situ kita baru menyadari bahwa perpisahan bukanlah jawaban. Hati ini sama-sama tak ingin dipisahkan dari si empunya.

Sudah banyak usaha yang kita keluarkan untuk hubungan ini. Jika kita memutuskan berhenti, perjuangan hebat itu tak akan banyak berarti

Sayang, masihkah kau ingat bagaimana kita sempat kelimpungan saat menyusun pondasi hubungan pertama kali? Aku tak pernah lupa bagaimana dulu kita saling menyesuaikan diri. Sama-sama mengempiskan ego agar tak jadi bumerang dalam hubungan. Aku dan kamu juga mulai saling menerima kelebihan yang juga hadir sepaket dengan kelemahannya.

Aku tak memiliki masalah yang berarti dengan segala tabiat burukmu. Pun kamu juga bisa menerima sifat buruk yang kumiliki. Bahkan, hingga detik ini kita masih berjuang untuk bisa menjadi satu. Bekerja sama untuk berjalan bersisian. Saling mengimbangi langkah serta menghindari lubang. Aku dan kamu selalu berjuang. Tidak sayangkah jika semua ini dihentikan?


Kenangan yang sudah kita kumpulkan juga kaya dan berwarna. Bukankah akan jadi percuma jika kita beranjak meninggalkannya?

Aku yang menangis dan menenggelamkan wajah di pelukanmu karena tak kuat di hajar kebengisan dunia kemudian menjadi pulih ketika kau mau mendengarkan dengan tekun semua ceritaku. Begitu pula ketika kau sedang timpang, ada aku yang siap menangkap. Membebaskanmu untuk bersembunyi di leherku. Mencari ketenangan dari belitan masalah kehidupan di sana.

Sudah ada berapa juta detik yang kita lewatkan untuk saling bertingkah bodoh? Urat malu kita sudah putus jika di hadapan satu sama lain. Tak ada pula kecanggungan yang turut serta. Sungguh, yang ada hanya rasa nyaman dan ketenangan yang dalam di sana. Kau pasti tahu, momen ini tak akan bisa kumiliki dengan pria lainnya.

Sudah takdir kita, untuk berjuang hingga habis daya. Karena menyerah begitu saja adalah hal yang keterlaluan mudahnya.

Sungguh, aku lelah jika harus mengurai jalinan ini dan harus menambatkannya ke dermaga yang lainnya. Aku tak sanggup lagi jika harus mencari penggantimu dan memulai hubungan cinta yang baru. Sayang, sungguh kita tak boleh lelah berusaha. Kita tak boleh memilih menyerah, karena itu sungguh terlalu mudah.

Jika saat ini kamu begitu dibelit jengah dan ingin beristirahat sejenak, tentu tidak masalah. Kamu boleh mengambil sebanyak apapun waktu yang kamu butuhkan. Aku akan sabar menunggu sembari terus menerus membisikkan harapanku. Dan semoga angin menyampaikan pesanku.

Sayang, aku mohon jangan pergi. Mari kita berjuang lagi, tanpa henti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s