Tak Pernah Ternilai

Kau menyiksaku disini
Dalam rasa berslah yang kini membunuhku secara perlahan
Kau selalu menghindar dari
Aku yang selalu mencoba ungkapkan semua
Lewat tatap mata ini

Ternyata maafmu tak pernah pantas untukku
Kau anggap aku tak ada
Dan kau tak pernah mengenal diriku

Setidaknya diriku pernah berjuang
Meski tak pernah ternilai di matamu
Setidaknya ku pernah menanti
Terkapar melawan sepi hatiku
Dan tak pernah bisa berhenti mencintaimu

Kau menghukum hati ini
hati yang dulu kau yakini tak kan pernah kecewaknmu
Kau memutuskan tuk pergi
Belum ku sempat memohon, dan mengemis
Agar kau tetap disini

Ternyata sedalam itu kau benci diriku?
Kau anggap ku tak terlihat
Meski ku tepat di depan matamu

Lirik lagu Last Child ini berhasil buat gw nge-repeat lagunya berkali-kali di playlistan winamp computer kantor. Liriknya ringan aja, tapi nyess aja dihati. Yup. Gimana sih rasanya kalo kita udah berjuang sampai bisa dibilang mati-matian, tapi yang diperjuangin itu seolah tutup mata tutup telinga. Mengenaskan sekali buat kita kan?
Udah berbagai macam kode kita kasih, berbagai macam bentuk perhatian, berbagai macam bentuk doa kita ungkapin. Tapi nyatanya, kita ni seolah gak terlihat padahal jelas-jelas kita ada di depan matanya. Sesakit inikah merjuangin cinta yang kita impiin?

Mau nangis pun percuma, gak bisa hilangin rasa luar biasa ini. Mau curhat pun sama aja. Mereka pasti bilang kita bodoh. Nunggu sesuatu hal yang gak akan pernah dateng untuk kita. Siapa yang bisa ngerti hati ini? Memang mulut bisa berkata apa aja, tapi hati? Apa bisa bohong? Kalo cuma dia yang bikin kita jatuh cinta berjuta kali. Apa bisa kita tinggalin gitu aja, dan cari yang lain? Kelihatannya mudah, tapi nyatanya, GAK SEMUDAH ITU.

Pertanyaannya, kenapa kita masih aja mau perjuangin ini? Padahal udah jelas tau, gak pernah ternilai di mata orang yang kita sayang? Kenapa kita lebih milih ngerasain sakittt setiap hari, daripada pergi ninggalin dan lupain semuanya? Kenapa kita yang punya begitu banyak rasa mahal untuk diri kita, tapi seketika jadi murah semurah-murahnya kalo udah didepan dia? Kenapa kita segitu bodohnya mau pilih jalan yang sakit ini? Dan ironisnya, orang yang kita sayang gak pernah tau perjuangan kita, airmata kita, sakittnya kita. So fool.

Tapi kembali lagi, semakin kita berusaha lari dari semuanya, semakin bayangan dia ngejer kita seolah ngomong “kenapa Cuma segini? Ayo kejar aku lagi, lebih kencang lagi.” Dan akhirnya, ya kita kembali lagi. Begitu banyak oranglain yang mencoba masuk pun gapernah bisa kita terima. Karena apa? Karena dia berdiri di depan pintu hati kita. Bukan didalam atau diluar. Tapi didepan pintu, sehingga menghalangi mereka yang mau masuk. Miris banget kan?

Entah sampai kapan dia bisa ngerti. Hina banget rasanya diri ini. Berjuang demi sesuatu hal yang gak mungkin diraih. Tapi sayangnya, rasa sakitt ini udahmenjadi rasa favorit untuk kita. Entah sampai kapan bisa terlihat dan ternilai di matanya. Entah keajaiban apa yang bisa lihat dia sadar seberapa lama kta nunggu dia disini. Supaya dia sadar, disaat gaada lagi tempat untuk dia pulang, disini masih ada gubug reot yang punya sejuta cinta untuknya….. :’)

Advertisements

One thought on “Tak Pernah Ternilai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s