Merantau; Sakit atau Menyenangkan?

Merantau itu ternyata gak semenyenangkan yang aku kira sebelumnya. Yang aku kira begitu menyenangkan bisa bebas. Bisa mengatur hidup kita sendiri tanpa ada yang mengatur lagi. Aku kira mandiri itu menyenangkan dan mudah dijalani. Ternyata?

Merantau itu ternyata sakit. Sakitnya jauh dari orang-orang tercinta. Sakitnya beradaptasi. Sakitnya menerima perlakuan tidak menyenangkan yang sebelumnya gak pernah diterima. Sakit harus menahan ingin bertemu keluarga karena tuntutan pekerjaan. Sakitnya harus menerima kabar buruk dari orang-orang yang dicinta, tapi kita gak bisa lakuin apa-apa selain nangis.
Sekarang baru kerasa banget betapa berharganya punya keluarga. Keluarga yang selalu peduli, disaat semua orang gak ada sedikitpun mempedulikan. Keluarga yang selalu ikhlas membantu, disaat oranglain mengumbar kemunafikannya. Keluarga yang selalu menerima apapun kondisi kita, disaat oranglain meninggalkan. Keluarga adalah segalanya menurut aku sekarang.

Merantau mengajarkan aku banyak hal. Bagaimana harus bertahan disaat kesulitan mendera. Bagaimana sebisa mungkin tidak memberi kabar buruk yang akan membuat keluarga khawatir. Bagaimana sebisa mungkin untuk menyisihkan uang untuk keluarga. Merantau juga mengajarkan aku tentang definisi rindu. Rindu yang memang layak untuk kita lakukan untuk seseorang. Merantau juga mengajarkan aku untuk ber”planning” sebelum melakukan sesuatu. Semua harus diperhitungkan segala sesuatunya. Sangat berpengaruh bagi aku yang selama ini tidak pernah berfikir panjang sebelum bertindak, yang menghasilkan sesuatu yang tidak diinginkan.

Merantau juga mempertemukanku dengan berbagai macam teman dengan karakter dan permasalahan hidup yang berbeda-beda. Lewat mereka inilah aku belajar, bahwa tidak semua orang bisa dipercaya. Tak sedikit juga dari mereka yang dibebankan begitu banyak masalah yang sepertinya aku tidak akan sanggup memikulnya. Dari sinilah aku belajar bersyukur, dan juga menguatkan. Merantau juga membuat aku semakin menyadari peran Tuhan begitu besar dalam hidupku. Dimana tiap aku bersandar kepada-Nya, tanpa disadari masalah demi masalah berhasil aku lewati.

Dan akhirnya, sekarang aku semakin kuat dan tegar. Aku semakin dewasa dalam menghadapi hidupku. Dan aku pun sudah bisa mengatakan kepada oranglain, “merantaulah supaya kamu tau apa itu hidup yang sebenarnya…”
ec4372e64d8511e3bfe71271cab09a7c_8

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s