Hati itu Ngga Bisa Dipaksa Kan?

Nggak mungkin kan buat maksa hati? Mungkin memang bibir ini nerima, tapi yang didalam ini? Jerit! Berharap ada yang denger. Tapi nyatanya? Selalu bibir yang menang, selalu bibir yang didengar dan dipercaya. Padahal? Hufttt.. Entah kapan bisa jujur sama diri sendiri. Bicara sesuai dengan apa yang hati inginkan sebenarnya. Semua gakada yang sulit. Tinggal ngomong jujur aja kok, apa susahnya? Tapi kenapa lebih seneng bohong demi menjaga perasaan orang? Sementara perasaan sendiri jerit gak karu-karuan.
Tuhan, kenapa harus seperti ini. Pingin banget bilang jujur. Tapi kenapa Kau mengunci semuanya? Kenapa Kau setting bibirku hanya untuk bicara yang akan menyenangkan mereka? Sementara aku tersiksa dengan apa yang telah aku katakan? Bukankah jujur itu indah walaupun kedengarannya nggak enak? Tapi apakah bohong itu lebih indah walaupun kedengarannya enak tapi setelah itu mengecewakan?

Semakin aku melangkah dan menjalani semua ini, aku semakin tersiksa. Teriak pun rasanya mulut ini terkunci. Rasanya seperti sedang ada di lorong bawah tanah yang gelap. Teriak sekencang apa pun gak ada yang dengar, hanya pantulan suara jeritan kita yang terdengar. Senjata makan tuan. Paitt banget rasanya.

Siapa yang suka dipaksa? Dimana kita nggak bisa lakuin apa yang jadi pilihan kita selama ini. Dimana begitu banyak pilihan yang kita minatin, tapi kita hanya diperbolehkan untuk pilih 1 diluar itu. Siapa yang mau? Memang judulnya sih demi kebaikan kita. Tapi nyatanya? Nol besar. Sama sekali nggak baik utnuk kita. Yang ada kita Cuma tertekan dibawah begitu banyaknya teori yang memusingkan.

Begitu juga dengan pasangan. Ini yang paling sensitive. Karena udah menyangkut hati, perasaan, emosional. Apa yang dimata kita baik, belum tentu baik juga dimata yang lain. Tapi kembali lagi. Namanya hati. Siapa yang bisa maksa? Balik lai ke masalah “demi kebaikan kita”. Nggak selamanya kan kebaikan versi mereka itu berbanding lurus dengan kebaikan versi kita. Justru kebanyakan orang yang bersedia menuruti kata hati orang lain, hidupnya gak bahagia. Ya, namanya berusaha mencintai apa yang sama sekali gak kita cintai. Gimana sih rasanya?

Hidup kita, kita yang jalanin. Masa depan kita, kita yang tentuin. Masalah berhasil atau tidaknya, itu tergantung bagaimana kita menikmati. Sesuatu yang memberi hasil banyak juga gak akan bisa bikin kita bahagia kalo itu bukanlah yang hati kita mau. Bukannya gitu? Sekarang tugasnya, belajar bicara. Belajar menyuarakan apa yang kita mau. Ini diri kita, dunia kita, so kita yang tentuin arahnya, kecepatannya, dan tujuannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s